Edinburgh, we're coming!



Rencana berangkat ke bandara Barcelona dari hostel jam 6-an tapi kami baru bangun jam 6 kurang, langsung panik dong. Karena kami harus bebersihan dulu dan nyelesaiin packing barang-barang yang belum masuk. Alhasil baru kelar beres-beres itu sekitar jam 7-an. Walau jadwal pesawat jam 10.45 kami tetep panik karena bandaranya cukup jauh dari hostel dan kami belum tau banyak informasi transportasi tercepat untuk sampai ke sana. Ketika check out kami sempet tanya dengan resepsionisnya untuk tahu cara buat ke bandara. Pihak hostel memberikan dua opsi yaitu naik kereta/metro atau naik bus. Karena dari hostel paling deket stasiun metro dan agak sedikit ribet kalau naik bus karena harus transit dan perlu cari tau lagi tempat busnya akhirnya kami memutuskan untuk naik metro aja.

Sampai stasiun kami kebingungan untuk pesen tiket metronya karena yang kami tau untuk ke bandara itu ada tiket khususnya. Untuk saat ini kami hanya punya tiket metro biasa dan masih punya saldo untuk dipakai, tapi kalau untuk ke bandara kami harus beli lagi dan gak tau harus pesennya gimana. Di stasiun pun belum banyak orang jadi gak ada yang bisa ditanyain. Security atau penjaga pun gak ada saat itu. Terus gak berapa lama ada seorang cowok, ya karena udah buru-buru juga langsung aja saya tanyain buat pesen tiket ke bandara. Cowok itu agak bingung dan dengan bahasa Inggris yang kurang fasih dia mau bantu kami. Dia bilang pake dulu aja tiket yang kami punya saat ini, untuk beli tiket ke bandaranya nanti bisa beli di stasiun transit. Trus dia ngajak untuk bareng aja sampe stasiun transit. Yaudah deh kami ikutin dia. Oiya nama cowok itu Mathias, dia asalnya dari Argentina jadi bahasa Inggrisnya pun kurang lancar tapi masih cukup bisa dimengerti kok buat kami. Sebenernya dia juga yakin gak yakin jalur buat ke bandaranya, akhirnya dia mastiin lagi sama warga lokal dengan menggunakan bahasa Spanyol. Nah bapak-bapak yang jelasin pake bahasa Spanyol ke dia itu nunjuk-nunjuk ke arah sebrang. Akhirnya dia bilang kalau jalur yang tepat buat ke bandara ternyata di jalur sebrang. Woooo makin panik deh, kami langsung bergegas ke sebrang sambil pamitan seadanya dengan Mathias karena takut ketinggalan kereta. Sesampainya di jalur sebrang kereta kami datang dan kami segera naik.
Di dalam kereta bandara

Dan memang betul jalur yang kami ambil, kami turun di stasiun transit dan dari situ kami baru bisa pesen tiket kereta bandaranya. Alhamdulillah masalah kelar, kami tinggal tunggu keretanya sampe. Saat itu waktu udah menunjukkan pukul 8 kurang dan kereta belum datang juga. Sedangkan dari stasiun itu ke bandara masih makan waktu sekitar 1 jam lebih. Duh bener-bener khawatir deh. Karena kami naik pesawat Ryan Air, termasuk maskapai murah di Eropa tapi dengan segudang persyaratan yang tidak terduga. Jadi kalau ternyata ada hal-hal yang gak sesuai bakal dapet denda yang lebih besar dari harga tiketnya. Makanya kami jadi takut kalau misal telat check in, padahal ada serangkaian proses misalnya harus cek visa karena kami akan ke UK yang notabene visanya beda dengan visa schengen trus harus taro bagasi juga dan juga kami gak tau antriannya nanti bakal kayak gimana kan. Kami menunggu kereta mungkin sekitar 20 menitan, langsung segera masuk dan berdoa semoga waktu masih cukup buat kami. Sampai bandara untuk ngurus check in-nya lumayan ribet. Kami harus cek visa dan gak tau konternya dimana karena gak ada keterangannya. Kami tanya sana-sini juga gak ada yang bisa ngasih jawaban pasti. Trus saya liat ada kayak semacam antrian dan tertulis nama Ryan Air disitu, yaudah deh coba aja antre disitu dan ternyata itu tempat yang bener untuk melakukan pengecekan visa dan paspor. Selesai dari situ kami menuju konter check in dan karena kami pake ransel untuk bagasinya kami terpisah. Kami harus jalan ke arah konter lain yang cukup jauh dan taro bagasi kami disana. Agak khawatir juga tuh ini nanti bagasi kami nyampe gak ya, kenapa harus dipisah dengan yang pake koper?, pikir saya saat itu. Bismillah aja deh, kalau rejeki gak akan ilang itu ransel. Nah barulah kami bisa tenang karena sudah duduk di ruang tunggu bandara. Fiuuuh..
Suasana di dalam pesawat Ryan Air

Perjalanan pesawat kurang lebih 2-3 jam kalau gak salah. Kami sampe bandara Edinburgh jam 2 siang. Turun pesawat kami langsung melakukan pengecekan visa, kali ini pertanyaannya jauh lebih ketat dibanding waktu kami mendarat di Paris. Tapi gak parah kok, petugas cuma mastiin tempat detail kami tinggal, trus pekerjaan kami apa di Indonesia, trus tujuan kami di UK ngapain, pergi sama siapa aja, berapa lama akan di UK, dan dari UK mau kemana. Selesai pertanyaan kami menunggu bagasi kami datang, tapi sebelum itu kami menukar uang euro di money changer karena dari Indonesia kami hanya menukar Euro sedangkan di UK kami harus menggunakan mata uang Poundsterlling jadi kami harus menukar uang dulu. Karena nanti dari bandara ke penginapan kami harus naik bus dan kalau belum nukar uang jadi gak bisa bayar dong.

Setalah menukar uang dan mengambil bagasi, kami segera keluar dan mencari bus buat ke pusat kota. FYI, di UK ini posisi supirnya itu sama kayak di Indonesia berada di sebelah kanan. Dan bus yang kami naiki saat itu bus tingkat, tapi kami memilih duduk di bagian bawah aja karena kami punya bawaan yang berat walaupun sebenernya ada tempat khusus bagasi yang cukup besar di dalam bus tapi kami gak mau makan energi kami untuk naik tangga. Haha..
Suasana di dalam bus bandara

Sampai di pemberhentian terakhir kami sangat bersyukur karena hostel kami sangat dekat dari pemberhentian itu, cukup jalan 5 menit kami sudah sampe. Kali ini kami menginap di St. Christopher Inn. Konsepnya dormitory dengan 21 bunk bed dan diisi campur antara laki-laki dan perempuan. Kami memilih hostel ini karena ini yang paling murah dengan lokasi yang super strategis. Walau kamarnya campur kita tetep punya privasi kok karena tiap bunk bednya dikasih penutup sekelilingnya, jadi konsepnya kayak semacam semi kapsul gitu. Jadi ya alhamdulillah masih merasa aman lah, paling ya pas mau gunain toilet aja yang harus pinter cari waktunya biar gak papasan sama cowok. Nah untuk penginapan ini saat pesan di booking.com cara pembayarannya ternyata pay at hotel. Kami pikir saat itu bisa bayar pake kartu kreditnya Yulia karena kami hanya menukar uang poundsterllingnya sedikit. Tapi karena Yulia lupa pinnya akhirnya kami harus bayar pake cash. Itu lebih dari setengah uang poundsterlling yang kami punya langsung ludes untuk bayar penginapan.
Foto di depan penginapan
Bunk bed tempat tidur kami, kayak kapsul

Kamar kami di lantai 3 dan kami dapat kasur yang dekat dari kamar mandi dan ada space kosong di pojok untuk naro barang kami yang besar. Pojokan itu juga kami jadikan tempat sholat karena tempatnya yang tertutup dan tidak mengganggu orang jalan. Udah unpack barang dan bebersihan, kami makan dulu nyeduh mie gelas di ruangan khusus untuk para penghuni hostel untuk makan. Namanya “chill out room”, di tempat ini disediakan microwave, teko untuk masak air panas, kulkas, dan perlatan makan. Selesai makan kami langsung segera keluar hostel. Karena saat itu udah sore kami hanya mampir ke taman deket hostel. Nama tamannya Princess Street Garden. Tamannya cantik trus di pinggirnya banyak bangku-bangku buat duduk santai. Dan uniknya bangku-bangku ini semuanya ada namanya. Jadi orang jaman dulu disini mengenang keluarganya dengan membuat bangku taman dan diberi nama (kelurga yang meninggal). Kami gak bisa lama main di taman ini karena jam 5 sore taman sudah tutup dan penjaga sudah mulai menegur orang-orang yang masih di taman untuk segera keluar. Yaudah deh kami lanjutkan jalan-jalan dan sebelum kembali ke hostel kami mampir ke supermarket untuk beli kebutuhan makanan kami. Akhirnya kami membeli sereal dan susu. Balik hostel kami makan malam dengan roti (yang dibeli di Barcelona) dan segera istirahat.


Ngeliat tupai di Princess Street Garden


 


Suasana menjelang petang di belakang hostel


To be continued..

Komentar

Postingan Populer