Still in Edinburgh~~
Hari kedua di Edinburgh, kami memutuskan untuk mengikuti tour gratis yang diinfoin sama
Sekitar lebih dari 30 menit kami jalan-jalan, kami kembali
ke hostel dan menunggu di kafe. Dan gak berapa lama ada tim dari Free Tournya
datang dan mengajak kami yang tertarik ikutan Free Tour untuk mengikuti dia.
Dari situ kami bergabung dengan orang-orang lain yang juga berminat ikutan Free
Tour ini. Free Tour ini dibagi ke beberapa bahasa. Jadi kita bisa memilih tour
guidenya dengan bahasa Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia kalau gak salah
inget. Tentu saja dong kita pilih yang bahasa Inggris.
| rombongan tur gratis |
Di kelompok kami sepertinya ada sekitar 20 orangan dari
berbagai negara, sempet kenalan sama Ella dari London dan Weiwin dari Myanmar. Tour
guide kami namanya Jane, dia aslinya asal Namibia dan sedang kuliah di
Edinburgh. Kami memulai tour di daerah Old Town karena tempat ini banyak
sejarahnya dan Jane menjelaskan tiap-tiap tempat berikut sejarahnya. Tau dong
ya pelafalan bahasa Inggris Amerika dengan UK itu beda banget, dan kita
terbiasa dengan bahasa Inggris Amrik jadi agak susah sih ikutin penjelasannya
Jane. Lah listening pas TOEFL aja pas-pasan gimana mau dengerin dengan seksama
penjelasan dari Jane dengan lafal Britishnya. Hahaha.. Jadi gak gitu banyak
nangkep apa yang dijelasin sama Jane. Tapi intinya sih beberapa tempat yang
kami kunjungi itu masih digunakan oleh kerajaan Inggris, sependengaran saya itu
ada satu tempat yang dijadiin tempat meetingnya Prince Harry dan Kate Midlleton
sebelum mereka menikah. Cuma detailnya saya kurang nangkep, lagi-lagi karena
keterbatasan bahasa, hahaha..
Free Tour ini ditutup di tempat Greyfriars Bobby. Icon dari
tempat ini adalah si Bobby, seekor anjing peliharaan polisi di Edinburgh dimana
si polisi meninggal tahun 1858 dan Bobby setia menunggu di kuburan majikannya
hingga 14 tahun lamanya sampai dia mati di tahun 1872. Jadi keinget cerita
Hachiko Jepang gak sih? J
Selesai free tour mulai turun hujan walau masih gerimis tapi suhunya jadi makin dingin, akhirnya kami memilih untuk kembali ke hostel dulu
untuk menghangatkan badan sambil menunggu hujan reda. Sorenya ketika hujan udah
reda kami lanjut jalan ke arah Edinburgh Castle, karena udah sore kastilnya
udah tutup jadi sepi deh. Puas deh buat foto-foto di depan kastilnya tanpa
bocor (alias gak ada photo bomb). Emang gak ada niat untuk masuk ke dalam
kastilnya juga sih karena biaya masuknya lumayan coi, padahal pasti cantik
banget pemandangannya dari dalam kastil. Tapi kami cukup puas untuk foto-foto
di pintu gerbangnya aja. Setelah itu kami kembali ke hostel. Kedengerannya sih
kayak gak menarik banget perjalanan hari ini, but wait. Selama jalan
keliling-keliling, suasana kotanya tuh asik banget. Bangunannya super artistik
dan historical banget. Kayak nonton film-film Inggris jaman dulu gitu loh. Jadi
strolling around selalu amaze pada setiap sudut kotanya, dan menjelang petang
feelnya terasa beda dengan sentuhan lampu-lampu kuning temaram remang-remang
gitu makin berasa historic dan sedikit horor sih. But it’s very romantic and
beautiful!!!
![]() |
| Edinburgh Castle |
| Victoria Street, Diagon Alleynya Harry Potter terinspirasi dari sini |
So, kami kembali ke hostel ketika udah gelap dan makan malam
di Chill Out Room lagi. Di sini kami kenalan sama Carola dari Milan dan Malco
dari UK. Si Carola ini profesinya artis gitu di Milan, walau mungkin belum terlalu
terkenal katanya, tapi lumayan dong bisa kenal sama artis dari Milan.. J Dia lagi solo
travelling ke Scotlandia dan besok dia mau ke Stoneheaven agak ke Utara lagi
dari Edinburgh. Sedangkan si Malco ini pengalaman travellingnya udah mendunia
coi. Dia baru aja melakukan perjalanan 18 bulan ke Amerika Selatan sampai ke
Asia. Dan dia kembali ke UK karena harus kerja dan menghasilkan uang untuk bisa
lanjut travelling lagi. Buset dah, hidupnya selalu dalam perjalanan. Keren
banget. Dan sempet terngiang kata-kata dia intinya “Kebahagiaan itu bukan
dilihat dari materi yang kita punya, coba lihat di Afrika. Mereka termasuk
negara miskin, tapi mereka masih bisa bersenang-senang, joget sama-sama, dan
menikmati hidupnya. Itu contoh kebahagiaan yang sesungguhnya”. Super!!
![]() |
| Foto bareng Malco & Carola |
Kami cukup lama ngobrol sama mereka, karena sangking asiknya obrolan kami. Masing-masing nyeritain pengalaman hidupnya dari yang paling umum sampai yang paling pribadi. Kayak si Malco yang cerita soal ceweknya di Thailand yang akhirnya dia tinggalkan karena mereka sebenernya sudah punya pasangan masing-masing di negaranya tapi mereka saling cinta dan cerita Carola yang sempet gagal casting, dll. Seriously, sometimes we can more open to someone that we just know because they will not judge us and just hear it your story, right? Kayaknya kami ngobrol sampe hampir tengah malam, akhirnya kami memutuskan untuk menyelesaikan obrolan karena besok pagi kami sudah punya agenda masing-masing.
Esok paginya saya dan Yulia memutuskan untuk melakukan
perjalanan ke Dean Village. Sebelum berangkat kami sarapan dulu dong di Chill
Out Room seperti biasa, tapi ada insiden dulu dong. Kami rencana mau ngerebus
telor, yaudah dimasukin lah itu telor bulet di tupperware + dikasih air trus
lanjut di microware (alata masak yang disediain cuma ini doang). Pertama Cuma 2
menit doang, tapi ngerasa belum mateng kami lanjut microwave lagi 2 menit dan
gak berapa lama “BOOOM”. Microwavenya kebuka dan semua isi telor itu muncrat
sampe ngalir keluar microwave. Asli kaget banget, mana lagi banyak orang lagi
disitu (ada kawanan anak-anak SMA Jerman gitu). Asli malu campur kaget,
langsung deh bersihin itu microwave. Percobaan pertama gagal, kami gak nyerah
dong jadi kami bikin lagi tapi sekarang buatnya telornya dipecahin dulu dari
cangkangnya. Untungnya microwavenya masih bisa digunain, jadi percobaan kedua
berhasil. Alhamdulillah bisa sarapan juga, haha.. Selesai insiden
memalukan itu dan perut kami pun udah cukup terisi kami segera berangkat ke
Dean Village. Untuk kesini kami cukup jalan kaki, lumayan jauh sebenernya
kalau diukur dengan jalan kaki. Tapi karena suasana yang adem, bersih, dan jauh
dari polusi perjalanannya jadi gak berasa. Sebenernya Dean Village ini termasuk
pemukiman warga juga tapi tempat ini sudah menjadi World’s Heritage loh, kalau
liat google ya. Di desa ini walau ada beberapa rumah tapi kami gak begitu
banyak melihat warganya, yang ada ya para turis seperti kami ini. Mungkin desa
ini cuma dijadikan tempat persinggahan semacam villa gitu bagi orang-orang
kaya disana kali ya, menurut saya aja sih ini #sotoymodeon. Di desa ini kita
bisa melihat rumah-rumah khas UK, trus ada pemakaman juga yang super rapi tapi
ya rada horror juga sih kalau jalan sendirian, dan disini tuh ada aliran
sungai. Bikin suasana makin tentram deh.
Setelah puas nikmatin suasana di Dean Village kami lanjut
perjalanan ke Elephant Cafe, kafe ini adalah kafe yang sering dikunjungi J.K.
Rowling penulis buku Harry Potter. Dan menurut info semenjak buku ketiga Harry
Potter, JK Rowling menulis ceritanya di kafe ini. Sampe kafe ini menjuluki
dirinya sebagai “birthplace of Harry
Potter”. Tempat ini cukup ramai padahal tempatnya menurut saya gak begitu luas
sih, trus banyak beberapa kumpulan turis (kebanyakan dari Asia Timur) yang
antre foto di depan kafe ini. Kami pun gak mau ketinggalan dong untuk foto
disini.
Dari situ kami lanjut ke Spoon Cafe, ini juga kafe yang
biasa dikunjungi sama JK Rowling. Tapi penampakan kafe ini gak begitu terlihat.
Gak seperti Elephant Cafe yang sampe menulis dirinya sebagai “birthplace of
Harry Potter”, kafe ini ya seperti kafe biasa aja. Kami lanjut main ke museum.
Wisata museum di Edinburgh ini hampir semuanya gratis, jadi ya gak mau
melewatkan sesuatu yang gratis dong. Jadi kami ke National Gallery. Tempat ini
lebih banyak lukisan-lukisan para anggota kerajaan dan kondisi Inggris zaman
dahulu. Abis dari situ, kami ke Museum On The Mound. Ini kayak semacam Museum
Bank Indonesia gitu. Jadi isinya tentang uang-uang dan alat tukar di Inggris
dari zaman dulu hingga sekarang. Setelah dari situ kami mencoba mencari masjid.
Dan akhirnya kami ketemu kawasan Muslim disini. Jadi ada beberapa toko halal,
jadilah kami coba cek dan beli daging halal buat bekal makan kami besok. Dari
toko baru kami menemukan masjid, nama masjidnya Mosque Kitchen. Untuk jamaah
perempuan kami harus naik ke lantai 2. Saat di dalam ada sekumpulan anak-anak
yang lagi belajar ngaji yang diajari oleh seorang wanita. Kalau melihat
perawakannya anak-anak & wanita itu keturunan Timur Tengah. Jadi waktu
disana cuma ada mereka dan kami berdua, menunggu adzan maghrib dan menunaikan
shalat maghrib di masjid ini. Selesai sholat kami segera kembali ke hostel.
Selama di Edinburgh
kami gak begitu tertarik untuk merasakan suasana malamnya karena selain karena
gak ada tempat yang bisa dikunjungi (rata-rata jam 5 sore tempat-tempat wisata
bahkan taman sudah ditutup), suasananya yang sepi dengan penerangan yang sangat
minim agak khawatir aja kalau ada orang yang iseng ganggu. Padahal mah
sebenernya orang-orang disini ramah-ramah sih tapi tetep aja anaknya parno dan
lebih baik mencegah kan. Makanya kalau sudah agak petang kami sebisa mungkin
udah jalan menuju kembali ke hostel.
Hari terakhir di Edinburgh, pagi-pagi kami sarapan dengan
bikin sup telor + daging yang kemarin kami beli. Kebetulan di chill out room hostel
ada garam dan lada. Jadi bisa dijadiin bumbu dan ditambah bon cabe dong yang
kami bawa dari Indonesia. Super nikmat sarapan kami pagi itu. Alhamdulillah.
Selesai sarapan kami berangkat menuju Calton Hill, tempatnya gak begitu jauh
dari hostel. Tapi ketika perjalanan kesana tiba-tiba hujan turun, gak deres sih
tapi ya lumayan bikin basah. Jadi ya kami tetep jalan dengan pake payung. Karena
hujan suasananya jadi gloomy, padahal dari tempat ini bisa ngelihat kota
Edinburgh dari ketinggian. Kalau cerah pasti keliatan cantik banget. Gak berapa
lama hujan mulai deras, akhirnya kami menuju ke sebuah bangunan terdekat dan
berteduh disana. Banyak para wisatawan juga berteduh di tempat ini. Ketika lagi
nunggu hujan reda, saya merhatiin kok hujannya aneh. Airnya tuh kayak
mantul-mantul di tanah. Trus saya bilang ke Yulia kayaknya ini hujan es deh dan
Yulia langsung ngecek dong, dia menengadahkan tangannya dan menampung hujan.
Dan beneran itu bukan hujan air tapi es. Es ya bukan salju, karena kalau salju
lebih lembut. Kalau ini tuh kayak kerikil-kerikil kecil gitu. Jadi takjub bisa
ngerasain hujan es disini. Setelah agak reda kami memutuskan untuk kembali ke
hostel. Kami menghangatkan diri dulu sambil mikir tempat wisata mana yang bisa
kami kunjungi dalam kondisi hujan begini.
Akhirnya kami memutuskan untuk ke National Museum of Scotland. Museum ini luasnya super banget, buat muterin semua isinya gak cukup cuma sehari. Karena museum ini ada 7 lantai dengan dua sisi yang berbeda. Kayaknya saya cuma sanggup sampai lantai 4 kalau gak salah. Isi museumnya pun beragam dan dari seluruh dunia. Ada tentang fashion, kebudayaan, alat transportasi, alat komunikasi, dll.
Akhirnya kami memutuskan untuk ke National Museum of Scotland. Museum ini luasnya super banget, buat muterin semua isinya gak cukup cuma sehari. Karena museum ini ada 7 lantai dengan dua sisi yang berbeda. Kayaknya saya cuma sanggup sampai lantai 4 kalau gak salah. Isi museumnya pun beragam dan dari seluruh dunia. Ada tentang fashion, kebudayaan, alat transportasi, alat komunikasi, dll.
Setelah capek keliling museum kami penasaran pengen main ke
universitasnya. Baru sampe kawasan kampusnya hujan turun lagi dan cukup deres karena kondisi udah lelah, saya memilih untuk
kembali ke hostel untuk istirahat. Sedangkan Yulia tetep lanjut untuk liat isi
kampus. Jadi kami misah deh. Jadi museum itu destinasi terakhir yang saya
kunjungi di hari terakhir di Edinburgh. Saya kembali ke hostel untuk mandi
wajib (karena baru selesai haid), packing barang-barang, dan tidur karena besok
pagi sudah harus berangkat ke Manchester. Thank you Edinburgh, paket lengkap
nih. Semua cuaca bisa dirasain, thanks a lot for such a good experience. See
you again!!!








Komentar
Posting Komentar