Pagi-pagi dengan kondisi Edinburgh yang masih sepi, hujan,
& cukup dingin mengantarkan kami untuk melanjutkan perjalanan ke
Manchester. Kali ini kami menggunakan transportasi kereta untuk ke destinasi selanjutnya.
Dan memang beruntungnya kami mendapat penginapan dengan lokasi sangat
strategis, kami gak perlu jauh-jauh ke stasiun cukup nyebrang & jalan kaki
cuma sekian meter doang. Alhamdulillah..
Jadwal kereta kami jam 8 pagi tapi kami stand by dari jam 7
karena kami harus cari tau dulu gate mana kereta kami. Pas menjelang
keberangkatan info gate kereta baru muncul dan ternyata itu tempatnya agak jauh
dari tempat kami menunggu, dengan kondisi bawaan yg berat kami lari-lari ke
gate yang dimaksud. Karena jadwal kereta disini sangat on time, jadi mereka gak
akan nunggu-nunggu penumpang. Jadi kalau telat cuma semenit pun akan ditinggal.
Makanya sempet panik tuh kami takut gak keburu. Belum lagi kami harus cari tau
tempat duduk kami dimana, tapi kami masuk dulu kereta sambil nyari kursi kami
di dalam. Kondisi tempat duduknya mirip kayak kereta ekonomi ke Bandung gitu,
sebagian menghadap ke arah kereta sebagian yang lain membelakangi arah kereta.
Ternyata kami dapet tempat duduk yg berlawanan arah dengan arah kereta. Karena
ngerasa pusing dan melihat masih banyak kursi kosong, kami pindah ke kursi
kosong yang tersedia. Dan memang tidak ada pengecekan mendetail tempat duduk,
asal udah punya tiket kereta kita bisa bebas pilih tempat duduk. Selama di
perjalanan gak ada yang negor soalnya kalo kami salah tempat duduk, hehe..
 |
| Suasana di dalam kereta Edinburgh-Manchester |
Selama di perjalanan pemandangan yang disuguhkan selalu
membuat takjub. Gak akan pernah bisa ditemuin di Indonesia yang notabene
merupakan negara tropis. Jadi kami bisa liat gunung es sebagai background dan
padang rumput hijau membentang dengan hewan-hewan ternak kayak sapi dan domba
(kayak di Shaun the Sheep gitu, haha..). Masya Allah, cuma mata doang yang bisa
menggambarkan keindahan pemandangan yg dilihat karena kamera pun gak sanggup
menangkap pemandangannya dengan kondisi kereta berjalan (yang ada fotonya blur
semua cui).
 |
| Pemandangan dari dalam kereta yang diambil seadanya :) |
Turun lah kami di halte terdekat dari hotel kami menginap,
itu pun harus minta diingetin ke supirnya takut kami terlewat. Jadi sengaja
duduk deket dari supir supaya kalau udah mau deket kami bisa siap-siap, hehe..
Sampai halte Trafford Bar kami segera menuju ke hotel. Kali ini penginapan yang
kami tempati adalah hotel dengan bergaya interior klasik di dalamnya. Kami pesan
kamar untuk 3 orang, jadi isinya 1 kasur besar untuk 2 orang & 1 kasur
kecil untuk 1 orang dan juga kamar mandi dengan ada bath tubnya. Ini termasuk penginapan termewah selama trip ini. Kami pesan untuk 3 orang karena teman kami Monica akan
bergabung. Dia sedang dalam perjalanan dari Leeds, UK. Sampai hotel sudah
siang dan kebetulan turun hujan membuat kami mager mau keluar. Yaudah
deh kami sempetin tidur siang dulu, hahaha.. Selesai rebahan kami keluar hotel
untuk cari supermaket untuk beli makan malam. Dan hotelnya cukup dekat dengan
supermarket dan alhamdulillahnya juga dekat dengan masjid. Saat di supermarket
kami seneng banget ada frozen pizza gitu yang harganya cuma 1 poundsterling.
Ukuran pizzanya tuh bukan yang kecil ya tapi kayak Pizza Hut yang ukuran besar,
jadi bisa dapet 6 slice. Lumayan banget kan dibagi untuk 2 orang. Ya tanpa
pikir panjang kami memilih pizza sebagai menu makan malam kami. Dan tentunya
kami beli makanan lainnya untuk stok besok hari.
 |
| Tampilan luar hotel kami |
 |
| Interior di dalam hotel |
 |
| Kondisi kamar |
Sekembalinya ke hotel, saat kami mau menghangatkan pizzanya.
Kami tanya ke resepsionis di mana dapurnya karena kami mau numpang untuk
hangatin pizza. Trus sama resepsionisnya langsung diantar ke lantai bawah
bagian restorannya yang masih dalam kondisi tutup dan ternyata untuk hangatin
rotinya gak bisa cuma pake microwave biasa dong harus pake oven dengan suhu
tertentu. Untung sama resepsionisnya dibantu banget dan proses masak pizzanya
pun gak sebentar karena ovennya harus di re-heat dulu sebelum digunakan. Kami
jadi merasa gak enak karena udah ngerepotin doi. Nah si resepsionis ini namanya
Muhammad, dia asalnya dari Aswan Mesir. Jadi alhamdulillah kenal sama orang
sesama muslim, tapi memang di Manchester ini cukup banyak warga muslimnya.
Sewaktu ke supermarket aja sudah beberapa kali papasan dengan wanita yang
berhijab. Masya Allah. Singkat cerita pizza kami jadi dan kami cuma bisa
kasih ucapan terima kasih ke Muhammad yang udah bantu kami untuk masak
pizzanya. Hehehe.. Selesai makan malam, si Monic akhirnya sampai ke hotel dan
kegiatan kami malam itu cuma saling tukar cerita karena kondisi juga sudah
malam. Jadi kami lanjutkan perjalanan esok harinya.
 |
| Menu makan malam |
Pagi-pagi kami bertiga bergegas untuk memulai perjalanan di
Manchester. Kami jalan kaki aja selama di Manchester karena suasananya gak
begitu padat kendaraan dan ya emang pedestrian friendly banget. Tujuan pertama
kami yaitu Castlefield, ini semacam kanal dengan bangunan mayoritas terbuat
dari bata merah yang bikin terkesan vintage banget. Abis dari situ kami
mengunjungi museum, hampir semua museum di Inggris biaya masuknya gratis. Jadi
kami tidak akan melewatkan sesuatu yang gratis tentunya. Museum pertama yang
dikunjungi yaitu Science and Industry Museum, di museum ini kita bisa
melihat proses industri zaman dulu. Ada proses industri pembuatan kain,
industri pembuatan peralatan makan, industri media cetak, juga bisa melihat
alat-alat telekomunikasi seperti TV, radio, telpon dll pada zaman dahulu. Menariknya
di museum ini juga ada gudang dan stasiun lama yang digunakan orang Inggris
zaman dahulu. Berasa kayak lagi di kota tua Inggris gitu jadinya..
J Selanjutnya kami
mengunjungi People’s History Musem, museum ini menjelaskan sejarah-sejarah yang
berhubungan dengan kemanusiaan. Contohnya kayak pemilu, zaman dulu ada
aturan-aturan tertentu orang-orang yang bisa menjabat di pemerintahan dan yang
menarik ada pembahasan tentang sejarah LGBT di Manchester yang ternyata sudah
ada sejak lama terjadi dan masih banyak sejarah lainnya.
 |
| Jalan kaki selama perjalanan |
 |
| Castlefield |
 |
| with Monic |
 |
| with Yulia |
 |
| Warehouse dan lintasan kereta api yang pernah beroperasi |
 |
| Sejarah LGBT Manchester |
Setelah puas takjub dengan The John Ryland Library kami
lanjut jalan ke Manchester Town Hall, ini kayak semacam gedung pemerintahannya
Manchester kayaknya. Waktu kami ke sana karena sudah sore jadi gedungnya sudah
tutup. Nah di tempat ini ada kejadian mengharukan yang saya alami. Saat itu saya
belum sholat zuhur dan ashar karena belum dapet tempat yang aman untuk
sholat akhirnya memutuskan untuk sholat di sekitaran tempat ini. Jadi di depan
gedung itu kan ada bangku-bangku panjang buat duduk. Akhirnya saya memilih
untuk sholat di situ dalam kondisi duduk. Selama sholat sebenernya saya jadi
kurang khusyuk karena saya sholat di tempat keramaian dan banyak orang lalu
lalang. Ada rasa khawatir dan merasa semua orang yang lewat itu melihat ke arah
saya. Tapi ya mau gimana lagi, sholat adalah kewajiban kita sebagai muslim jadi
saya tetep berusaha untuk menyelesaikan ibadah saya. Selesai sholat tiba-tiba
ada sekeluarga, yang saya yakini dari wajahnya ada darah keturunan Timur
Tengahnya, senyum ke saya sambil mengangkat jempolnya ke saya sembari bilang “Good
Job”. Masya Allah sekujur tubuh langsung gemeter dan tanpa sadar langsung
meneteskan air mata. Alasannya karena selama saya sholat saya merasa khawatir
akan terjadi sesuatu tapi alhamdulillah Allah masih melindungi saya dan saya bisa
beribadah sampai tuntas dan orang tersebut semacam tanda dari Allah untuk kasih
tau saya kalau di mana pun kamu berada, ibadah tetep nomor satu dan Allah akan
selalu melindungi setiap perjalanan umat-Nya. Masya Allah..

 |
| Bangku panjang merah tempat saya menunaikan sholat |
Selesai sholat dan foto-foto di Manchester Town Hall kami
jalan lagi ke Manchester Art Gallery yang jaraknya gak begitu jauh dari tempat
itu. Tempat ini lebih berisikan lukisan-lukisan zaman dulu. Menjelang petang
kami mampir ke Piccadily Gardens Manchester, saat kami ke sana sedang ada
semacam street food gitu dan kebetulan kami sudah cukup lapar dan mencoba
jajanan yang disajikan. Pilihan jatuh ke makanan India yang namanya SAMOSA dan
berkenalan dengan pedagangnya yang bernama Jafid yang juga seorang muslim dan
menurut ceritanya dia pernah kerja di Jakarta. Jadi cukup lama mengobrol sama
Jafid sambil menunggu Samosanya jadi dan kami dikasih bonus 1 Onion Bhaji.
Alhamdulillah..
J
Kami makan di taman tersebut dan selesai ngemil kami kembali ke hotel dan
kembali istirahat.
 |
| Ngemil dulu di sini |
Keesokan harinya kami sudah harus check out karena besoknya
saya dan Yulia sudah harus berada di London dan Monica hari itu berangkat ke
Liverpool. Tapi paginya kami titip barang dulu ke resepsionis dan melanjutkan
jalan ke Old Trafford Stadium, markasnya Manchester United. Kami cukup puas
untuk foto-foto di depan stadium dan window shopping di toko merchandisenya
aja. Abis dari situ saya dan Yulia lanjut Museum Run lagi sedangkan Monic udah
harus melanjutkan perjalanan ke Liverpool jadi kami berpisah dan melanjutkan
perjalanan masing-masing. Saya dan Yulia memutuskan ke Imperial War Museum North,
lokasinya gak begitu jauh dari Old Trafford Stadium. Museum ini menarik banget
karena menjelaskan tentang sejarah perang dunia yang terjadi di Eropa dari
kendaraan sampai pakaian yang digunakan selama perang. Dan menariknya di
waktu-waktu tertentu akan disajikan tampilan di seluruh dinding museum tentang kondisi
perang dan wawancara para korban perang yang kebanyakan anak-anak. Karena
disajikan dengan presentasi dan suara yang menggelegar bikin saya yang nonton
cukup sedih melihat peristiwa itu terjadi. Gak kebayang kalau kita hidup di
zaman perang dulu, tiap hari harus mendengar suara bom dan tembakan.. TT.TT
 |
| Old Trafford Stadium |
 |
| Gak cuma tulisan, kita juga bisa mencium bau |
Setelah puas melihat isi museum kami ke masjid E Hidaya dekat
dari hotel untuk melaksanakan sholat. Masjidnya bersih dan rapi, bahkan di
lantai 2 ada kamar mandi dan dapur dengan peralatan masak yang lengkap. Mungkin
bisa kali ya kalau ada yang mau menginap ditampung di masjid ini, hehe.. Kami
cukup lama di masjid ini karena sekalian rebahan sebelum berangkat ke terminal.
Tiba-tiba ada bapak-bapak tua yang menghampiri kami. Dia bilang kalian masih
mau lama disini? Kalau iya masjidnya gak saya kunci. Dan dia cerita kenapa dia
harus kunci pintu masjidnya, karena kejadian penembakan di masjid yang terjadi
di New Zealand. Warga muslim di Manchester jadi khawatir untuk sholat di masjid semenjak kejadian itu.
Dan membuat pengurus masjid harus selalu mengecek kondisi masjid, kalau
memang tidak ada yang menggunakan lebih baik dikunci. Sedih banget dengernya,
melihat kondisi kita di Indonesia masjid bertebaran di mana-mana tanpa harus
dikunci dan bisa kapan saja kita kunjungi. Tapi kalau di sini ya hanya bisa
dikunjungi saat jam sholat aja. Dan lagi karena insiden itu membuat para muslim
ada rasa takut untuk menunaikan sholat di masjid. Astagfirullah.., kami cuma bisa
mendengarkan cerita bapaknya aja L
Selesai sholat kami kembali ke hotel untuk mengambil
barang-barang kami dan segera menuju ke terminal bus untuk melanjutkan
perjalanan ke London. Sebenernya bus kami ke London baru berangkat jam 5 pagi
keesokan harinya, tapi kami memilih untuk menginap di terminal saja karena
selain untuk irit biaya penginapan kami juga khawatir akan tertinggal bus yang
jadwalnya sangat pagi. Sampai terminal kami membekali diri dengan membeli 2
burger dan 1 french fries untuk menu makan malam kami. Kami menunggu di
terminal Coach Station, dan ternyata gak hanya kami kok yang menginap di
terminal itu. Ada beberapa orang lainnya juga. Tempatnya lumayan lah untuk
istirahat walau kami cuma bisa tidur sambil duduk, meskipun ada bangku panjang tapi
kami gak boleh rebahan. Nanti ada security yang menegur kalau ada yang tidur
rebahan di terminal.
To be continued~
LONDON!!!
Komentar
Posting Komentar