Goedemorgen, Amsterdam!!!


Selamat pagi Amsterdam! Kami sampai di Belanda pagi hari, dan kali ini kami menginap di tempat orang lokal yang tinggal di Amsterdam yang baru kami kenal melalui aplikasi couchsurfing. Nama host kami itu adalah Sa Cha, beliau berumur sekitar 50 tahun aslinya orang Pakistan tapi sudah lama tinggal di Belanda. Kami sudah janjian dengan Sa Cha untuk ke rumahnya melalui whatsapp. Untuk ke rumahnya kami harus naik metro dari stasiun Sloterdijk tempat pemberhentian terakhir bus kami (dari London). Dari situ kami naik metro dan turun ke stasiun metro terdekat (Stravelstraat). Dari stasiun Stravelstraat kami jalan kaki ke rumah Sa Cha dengan bermodal GPS. Saat jalan dengan bawaan yang super banyak ada seorang wanita yang menegur kami dan sambil menawarkan minum teh di salah satu tempat sosial gitu yang sedang kami lewati. Ramah banget deh cewek itu, tapi kami harus menolaknya karena kami pengen buru-buru sampai rumah host kami biar bisa segera taruh barang dan istirahat. Lalu kami lanjut jalan, di persimpangan jalan kami sempet papasan sama seorang wanita dan dia menanyakan kami mau kemana. Yaudah kami kasih tau alamat yang kami tuju, trus diarahin sama dia yang kebetulan juga mau jalan searah. Eh gak taunya rumah doi pintunya bersebelahan sama pintu host kami dong, haha.. Sampai depan pintu rumah host kami, kami pencet bel yang bertuliskan namanya. Dan dia menyahut sambil bertanya kami siapa, ya kami jawab dan pintu langsung dibukain sama Sa Cha. Lalu kami pamitan dan mengucapkan makasih sama cewek yang anterin kami dan kami lupa berkenalan saat itu (duh!) dan naik tangga ke lantai atas dan sampai depan pintu sudah disambut oleh lelaki tua bernama Sa Cha.


pintu depan rumah Sa Cha

Kami saling menyapa dan Sa Cha langsung mengantarkan kami ke ruang tamunya dulu, kami ngobrol-ngobrol sebentar dan basa-basi dulu lalu setelah itu Sa Cha memberi tahu kamar kami. Jadi kamar itu kayaknya bekas ruangan gymnya doi. Jadi ada alat-alat angkat besi gitu di kamar. Dan kasurnya pun cuma kasur lipat tanpa dipan tapi cukup luas untuk kami tidur berdua. Alhamdulillah, trus dia juga kasih liat kamar mandi dan dapur yang juga bisa kami pergunakan. Setelah itu kami istirahat dan mandi. Setelah energi kami terkumpul kembali kami pamitan ke Sa Cha untuk keluar rumah untuk memulai perjalanan kami di Amsterdam. Doi cuma berpesan kalau pulang jangan terlalu malam, dan infoin ke dia 1 jam sebelum kami mau pulang supaya dia bisa bersiap kalau-kalau dia lagi gak di rumah.
suasana kamar yang kami tempati

Kami memulai perjalanan hari pertama kami ke area museum Amsterdam. Jadi emang di area ini ada banyak museum, yaitu Rijkmuseum, Moko Museum, Van Gogh Museum, dan masih banyak lagi. Namun tidak ada satu pun museum yang kami kunjungi karena semuanya berbayar dengan harga yang gak tergolong murah (tetiba kangen museum UK yang gratis, huhuhu..). Lagi-lagi kami cukup puas berfoto-foto di depan museum tersebut. Saat sampai di sana kami disambut dengan matahari yang cerah tapi dengan angin yang super dingin. Jadi kalau diliat di foto sih kayaknya suasananya hangat karena ada terik mataharinya, padahal pas disana kami nahan dingin setiap angin berhembus. Tau dong Belanda terkenal dengan kincir anginnya karena emang disini banyak angin dan karena saat itu masih musim semi jadi anginnya pun masih tergolong dingin, sampe-sampe kami sempet menghangatkan diri di toko buku dekat kawasan museum itu.



Abis puas foto-foto kami coba cari masjid untuk melaksanakan sholat. Alhamdulillah ketemu tapi emang bangunannya gak terlihat. Jadi kayak flat biasa gitu dan plang kecil bertuliskan nama masjidnya. Kami mampir dan sholat dulu disitu. Setelah sholat kami jalan sebentar dan menemukan toko es krim, dan Yulia dengan sigap langsung ajak untuk nyicip makan es krimnya dan saya pun mengiyakan. Kalau dipikir-pikir rada aneh juga, kondisi dingin malah makan es krim. Tapi ya namanya kepengen yaudah deh dicobain. Setelah selesai abisin es krimnya kami jalan lagi, sempet ngeliat kayak semacam pasar kaget gitu tapi pas kami kesitu banyak yang udah pada bongkar barangnya dan bersiap mau tutup karena emang saat itu udah sore sih. Kami sempet mampir ke salah satu convenience store dan di situ isinya kebanyakan makanan dari Asia gitu, jadi kita bisa nemuin makanan khas Indonesia juga. Selain indomie saya juga sempet liat onde-onde, dadar gulung, nasi uduk, kue lapis, dll dan saat jalan pun sempet ngeliat beberapa restoran Indonesia berderet gitu. Tapi jangan ditanya ya, kami gak mungkin masuk kesitu karena harganya WOW sekali. Akhirnya kami mampir ke supermarket besarnya dan membeli beberapa bahan makanan. Kami beli roti, sayur, telur, dan kentang. Rencananya kami mau makan malam dan masakin buat Sa Cha. Tapi saat kembali ke rumah Sa Cha dan menawarkan masakan, dia menolaknya. Bukan karena gak suka tapi ternyata karena dia harus diet. Karena dia sudah cukup berumur jadi dia udah gak bisa sembarangan makan, jadi kami makan malam di ruangannya dia sambil ngobrol tentang kehidupan. Banyak banget cerita dari Sa Cha, nanti saya ceritain lebih lanjut di post tentang couchsurfing aja kali ya (semoga bisa segera ditulis & dipost).
Salah satu masjid di Amsterdam

Mecoba es krim di Amsterdam :)







Selesai makan malam dan puas ngobrol, tapi sebelumnya ada kejadian unik saat kami pulang. Jadi saat masuk ke rumah Yulia mengucapkan Assalamualaikum, karena kami tau kalau Sa Cha sebenernya keturunan muslim tapi ya gak taat. Jadi dia sempet terharu gitu karena sudah lama tidak ada yang mengucapkan itu secara langsung ke dia. Dan doi sempet kagum sama kami yang tetep taat beragama karena melihat kami sholat dan berhijab. Dan keesokan paginya, ketika ke kamar mandi kalau gak salah denger saya mendengar Sa Cha nyalain radionya yang berisi lantunan Al-Quran gitu. Mungkin doi jadi kangen dengerin ayat-ayat Al-Quran karena melihat kami J

Pagi-pagi sekali kami sudah rebus telur dan kentang untuk bekal ke Keukenhof, taman bunga Tulip yang berada di kota Lisse. Ini alasan utama kami ke Belanda untuk melihat bunga Tulip yang sedang mekar hanya pada musim semi. Kami baru beli tiket masuk ke Keukenhof ini malam harinya melalui situsnya, kami pesan yang sudah sepaket dengan bus PP Amsterdam-Keukenhof. Ini sempet drama dulu karena lagi-lagi kartu kredit Yulia masih belum bisa digunakan dan kami gak yakin kartu debit saya bisa digunain untuk pembayaran ini, tapi alhamdulillah kartu debit saya bisa untuk melakukan pembayaran (terima kasih Bank Mandiri :D). Setelah selesai buat bekal kami ngobrol sebentar dengan Sa Cha lalu pamit untuk berangkat. Kami naik metro dulu ke RAI Station lalu gak jauh dari situ ada bus khusus untuk ke Keukenhof dan karena kami sudah beli tiket yang sepaket dengan bus jadi kami sudah tinggal antre saja. Padahal sebenernya di deket antrean itu ada booth untuk membeli tiketnya, jadi walau gak bisa pesen tiket melalui website kita juga bisa beli on the spot guys tapi mungkin harganya sedikit lebih mahal ya.
Bekal makan siang untuk ke Keukenhof

Perjalanan ke Keukenhof memakan waktu kurang lebih 1,5 jam kalau gak macet. Dan sesampainya di gerbang masuk Keukenhof langsung disambut sama banyak bunga Tulip warna-warni. Uwaaaaaa, girang luar biasa deh. Dan ketika kami ke sana banyak banget wisatawan Indonesia yang datang dan mereka semuanya bergrup, saya yakin sih itu grup travel gitu karena banyak travel agent yang memasukkan Amsterdam ke list untuk didatangi apalagi di musim semi ini untuk melihat taman bunga tulip. Jadi gak heran kalau ketemu banyak orang Indonesia di sini. Dan Keukenhof ini asli luasnya ampun-ampunan. Bener-bener seharian kami habiskan waktu disini dengan berbagai bunga tulip warna-warni. Sungguh memanjakan mata waktu liat bunga warna-warni nan cantik ini. Menjelang sore kami memutuskan untuk menyelesaikan kekaguman kami pada bunga-bunga Tulip ini. Kami kembali naik bus menuju RAI Station.




Dari RAI Station kami gak langsung pulang tapi kami mampir dulu ke Amsterdam Central dan Dam Square. Sambil keliling-keliling kota dan membeli oleh-oleh. Setelah mulai lelah kami kembali ke rumah Sa Cha dan ngobrol lagi dengan doi tapi pas saat itu kami kenalan sama Marc yang juga numpang nginep di rumah Sa Cha. Jadi Sa Cha punya 2 kamar yang bisa ditumpangin. 1 kamar cukup untuk 2 orang dan 1 kamar lainnya hanya cukup untuk 1 orang. Marc ini asalnya dari Kazakhtan tapi sedang bekerja di Jerman. Pekerjaanya saya lupa namanya tapi yang dilakukan dia kayak membantu orang lokal di sana untuk mengurusi rumah mereka, karena mereka punya anak dia pun harus mengurus anak-anak mereka dengan antar jemput sekolah atau membantu mereka kalau ada pekerjaan rumah. Ya kurang lebih begitulah pekerjaan dia. Kami cukup lama ngobrol dan mengakhiri obrolan karena sudah larut malam.

Keesokan harinya karena saya sudah selesai beberes duluan saya ke ruangan Sa Cha untuk ngobrol dan saat itu sudah ada penghuni baru. Jadi Marc cuma menginap semalam dan digantikan oleh Adel. Saya kenalan dengan Adel, doi aslinya dari Filiphina tapi sedang bekerja di Denmark. Jenis pekerjaannya juga ternyata sama dengan Marc. Kami gak ngobrol lama karena Adel baru sampai dan butuh waktu untuk istirahat jadi saya melanjutkan ngobrol dengan Sa Cha sambil menunggu Yulia bersiap. Hari itu kami berencana mau ke Zaanse Schan, ini merupakan  desa tradisional Belanda dengan banyak kincir angin dan memang menjadi salah satu objek wisata favorit di Belanda. Ini kami dapet infonya juga dari Almira yang sudah pernah ke sini duluan. Jadi atas dasar rekomendasi Almira kami segera menuju kesana. Kami naik metro dulu ke Amsterdam Central trus mencari bus yang menuju ke Zandaam. Saat sudah ketemu busnya dan ketika mau naik supirnya bilang untuk pembayarannya harus beli di mesin tiket atau bisa langsung ke supir namun tidak bisa cash melainkan menggunakan kartu kredit. Karena kartu kredit Yulia tidak bisa digunakan jadi kami coba ke mesin tiket. Dan ternyata mesin tiketnya pun gak menerima uang cash, jadi kami coba deh pake kartu debit saya dan ternyata berhasil. Yeeeay, rencana kami tetep berjalan karena tiket PP Amsterdam-Zandaam sudah di tangan. Kami kembali menunggu bus untuk ke Zandaam.

Sesampainya di Zaanse Schan, sudah bisa terlihat dari kejauhan terdapat deretan kincir angin di dekat sungai. Tapi kami mampir dulu ke suatu ruangan. Dan ruangan itu ternyata tempat pembuatan sepatu khas Belanda (Klompen). Tau kan sepatunya yang terbuat dari kayu dan di bagian depannya agak muncung gitu, jadi ruangan itu kayak mini museum gitu. Jadi berbagai jenis klompen dipajang di situ. Dan saat sampai di sana kita bisa melihat secara langsung proses pembuatannya melalui proses manual dengan tangan dan juga proses yang menggunakan mesin. Dan di tempat itu juga dipajang berbagai macam warna dan corak klompen yang bisa kita beli. Tapi ya kami gak tertarik untuk beli karena ya gak akan dipakai juga di Indonesia, ya kan?? :P Setelah puas melihat-lihat klompen kami lanjut ke ruangan lain. Ruangan ini menjelaskan tentang proses pembuatan keju. Keju merupakan salah satu hasil yang terkenal di Belanda. Dan di akhir ruangan ini kita bisa mencoba berbagai jenis keju secara gratis. Menarik banget kan?


Selain 2 ruangan itu ada ruangan-ruangan lain, ada ruangan yang isinya barang-barang vintage trus ruangan tempat pembuatan kue kayu manis, trus ruangan merchandise yang isinya ada kartun khas Belanda yaitu kelinci bernama Miffy, ada juga ruangan di mana kita bisa naik ke atas bangunan kincir angin dan mungkin bisa melihat proses di dalamnya yang saya gak tau isi di dalamnya apa karena untuk ke ruangan itu berbayar. Hehe.. Setelah memasuki beberapa ruangan yang gratis kami foto-foto di depan bangunan kincir anginnya, dan karena emang ini daerah tempat wisata jadi cukup banyak yang datang dan lagi-lagi kami melihat rombongan turis dari Indonesia. Entah kenapa kita bakal tau kalau rombongan itu dari Indonesia karena biasanya ibu-ibunya berdandan cukup heboh dan biasanya mereka suka heboh buat foto-foto (tapi ini mah turis dari Asia Timur juga suka begini dan parahnya mereka suka nyerobot antrean, jangan ditiru ya guys). Karena ini tempatnya makin ke Utara udaranya pun makin dingin, kalau gak salah saat itu suhunya 4oC dengan angin yang cukup kencang sampe bikin menggigil. Dan saat siang sempet turun hujan walau cuma sebentar. Di tempat ini juga cukup luas dan banyak ruangan-ruangan yang bisa dinikmati jadi gak berasa kami menghabiskan waktu lama di sini. Menjelang sore kami kembali ke Amsterdam dan kali ini kami gak mampir kemana-mana lagi karena kami harus segera packing barang-barang kami.

Miffy :3


Sekembalinya ke rumah Sa Cha, di ruangannya sudah ada Adel yang tadi pagi saya sudah sempat bertemu. Mereka lagi asik ngobrol, saya dan Yulia akhisnya ikut bergabung. Beneran ya ketika ngobrol sama orang baru apalagi dengan budaya, umur, dan tentunya pengalaman yang beda jadi nambah wawasan kita tentang berbagai hal. Tanpa sadar kami ngobrol sampai mulai gelap. Sa Cha sedang menunggu tamunya yang akan datang yang akhirnya kami berkenalan juga yang bernama Judy Lane. Judy berasal dari Myanmar dan punya pacar orang Norwegia kalau gak salah. Dia dulunya pernah mau dihost sama Sa Cha tapi karena sesuatu hal gak jadi dan saat ini dia ketemu Sa Cha cuma untuk ngobrol. Kami cukup lama ngobrol dengan Sa Cha, Judy, dan Adel sedangkan kami sudah harus ke Sloterdijk untuk menunggu bus pagi kami ke Brussel esok hari. Dan secara perjanjian dengan Sa Cha kami cuma menumpang untuk 2 malam saja. Tapi sebenernya Sa Cha masih menawarkan kamar kami karena ternyata orang yang akan menempati kamar kami baru bisa datang keesokan harinya, tapi kami akhirnya menolak tawaran Sa Cha karena kami takut ketinggalan bus pagi kami esoknya. Rumah Sa Cha cukup jauh dari terminal Sloterdijk dan transportasi umum baru beroperasi pukul 6 pagi, sedangkan bus kami berangkat pukul 7 pagi. Jadi kami memutuskan untuk menginap di terminal. Sebelum berangkat Sa Cha memberikan kami sekotak coklat dari hostee-nya yang berasal dari Belgia dan cookies kayu manis untuk cemilan kami di jalan.
Berfoto dengan Sa Cha, host kami

Foto bareng Adel, Judy, & Sa Cha

Kami berangkat sudah cukup malam untuk ke terminal karena keasikan ngobrol sama mereka. Dan sesampainya di Sloterdijk, kami pikir akan ada tempat waiting room seperti di terminal Manchester tapi ternyata tidak ada. Kami harus duduk di lantai dengan kondisi yang amat sangat menyedihkan karena malam itu ternyata suhunya mencapai 0oC. Saya sempet terpikir untuk kembali ke rumah Sa Cha, tapi sudah tengah malam dan kekhawatiran kami akan ketinggalan bus juga masih ada jadi kami tetep bertahan dalam kondisi super dingin. Wah kalau inget kejadian itu rasanya saya pengen cepet balik ke Indonesia ya Allah. Dinginnya bener-bener nusuk sampe ke tulang.


Karena gak tahan dengan kondisi yang super dingin membuat saya jadi gak bisa tidur, saya mondar-mandir biar menghangatkan badan. Trus saya menuju toilet buat buang air kecil. Karena sudah tengah malam, toilet yang beroperasi hanya toilet untuk disabilitas. Namun kita harus bayar untuk menggunakan toilet tersebut. Kebetulan uang recehan saya gak cukup, akhirnya saya coba cari tukeran ke beberapa orang yang masih terlihat di terminal. Tapi alhamdulillahnya saya dikasih uang cuma-cuma sama mereka. Akhirnya saya bisa pipis dan toiletnya besar guys, selain ada kloset, wastafel, juga ada tempat buat mengganti popok bayi, dan yang lebih canggihnya di dalam toilet ada heater. Saya sampai menghangatkan diri di dalam toilet hampir 1 jam. Sebenernya kalau sudah lebih dari 15 menit pintu toilet akan terbuka dengan sendirinya, tapi karena gak ada orang jadi saya tutup lagi pintunya tanpa harus membayar. Jadi saya tetep di dalam toilet hampir sejam. Karena kepikiran Yulia yang sendirian nungguin barang saya keluar dan memberi tau kondisi ini. Sekitar pukul 3 pagi karena kondisi makin dingin akhirnya kami menggotong tas kami dan berdua masuk ke toilet dan menghangatkan diri di dalam. Penolong banget deh itu toilet dari dinginnya malam di Amsterdam, kira-kira kami ngendep di toilet ada sekitar sejam karena ada orang yang mau masuk ke toilet. Kalau misalnya gak ada orang mungkin kami akan tetep di dalam toilet sampai bus kami datang. Hahaha..
Begitulah kami mengakhiri perjalanan di Amsterdam. Danke..

Berlanjut ke Brussels..

Komentar

Postingan Populer